FOLKLOR
Asal Usul Desa Karangsono
oleh Lisa Andriyani, S.Pd.
Karangsono
berasal dari kata karang atau batu, sono artinya pohon sono. Dahulu Mbah Sumo yang
tinggal di dukuh Brawah Desa Taman Sari mengutus empat orang yakni Nyai Rondah,
Mbah Mintorogo, Mbah Sari Gunung, Mbah Sarinten yang merupakan saudara beliau
untuk menghuni dan menjaga daerah Karangsono. Mbah Sumo membagi wilayah
Karangsono dan mengutus keempat orang tersebut yakni Nyai Rondah bertempat di
Sumur Besar, Mbah Mintorogo di Sawah Wetan,
Mbah Sari Gunung di Kidul
sekarang Karanggawang, Mbah Sarinten di Ploso. Sebelum mengutus keempat sanak kadang (keluarga) yakni Nyai
Rondah, Mbah Mintorogo, Mbah Sari Gunung, Mbah Sarinten terlebih dahulu Mbah
Sumo memberi pusaka kepada empat orang itu yakni Mbah Sarinten diberi pusaka
berupa Akik Badar Besi dan Sabuk Nagasasra, Mbah Sari Gunung diberi kalung
dengan liontin putih, Nyai Rondah diberi pusaka Payung Agung, Mbah Mintorogo
diberi pusaka Singkir Angin dan semua pusaka itu kasat mata dan merupakan benda
ghaib. Adapun Mbah sumo memberikan gaman
atau pusaka itu pastilah mempunyai kekuatan ghaib dan mempunyai fungsi seperti
pusaka Akik Badar Besi, Sabuk Nagasasra, dan
kalung berliontin putih untuk
menambah kekuatan sang pemilik juga sebagai tameng untuk menghalau serangan
para musuh, pusaka Payung Agung berfungsi memayungi seluruh desa dari mara
bahaya, agar penghuninya sejahtera, pusaka Singkir Angin berfungsi untuk
menghalau angin topan, menghalau penyakit.
Petilasan
Mbah Sari Gunung saat ini berada di bawah tower Karanggawang. Masyarakat daerah Karanggawang pada saat bulan
Suro tanggal 1 akan diadakannya
selamatan agar penduduk setempat selamat dari tolak balak. Dahulu pernah
kejadian jika tidak mengadakan selamatan akan ada musibah yang menimpa, salah
satu penduduknya akan gila. Kemudian jika ada orang yang mempunyai hajat
menikah apabila tidak diberi sesajen maka
yang mempunyai hajatan akan kena musibah berupa penyakit.
Petilasan
Nyai Rondah berada di sebelah sumur gede.
Keunikan sumur gede yakni pada saat
musim kemarau panjang airnya tidak surut atau tidak habis. Dahulu sumur gede adalah sendang yang sumbernya
disumbat dengan gong agar tidak mengeluarkan air yang banyak sehingga tidak
menimbulkan bencana banjir. Sumur gede
pada waktu kemarau panjang dahulu selalu didatangi para warga desa tetangga
seperti Desa Kuripan, Desa Candisari.
Petilasan
Mbah Mintorogo berada di sawah wetan
Karangsono. Apabila ada orang yang ingin menjadi pemimpin dan ingin mendapat
jawaban bisa mendatangi petilasan Mbah Mintorogo. Caranya dengan menyepi
kemudian nanti akan datang pertanda atau isyarat yakni lewat mimpi kalau Mbah
Mintorogo memberi kemeja maka orang tersebut nantinya akan menjadi pemimpin dan
apabila diberi kaos maka orang tersebut tidak akan menjadi pemimpin namun tidak
jadi pemimpinnya dalam keadaan tidak rusuh dan berlangsung damai, namun apabila
diberi pusaka Abir atau Clurit maka
orang tersebut tidak akan menjadi pemimpin dan akan terjadi rusuh.
Makam
Mbah Sarinten berada di Karangsono Ploso. Hal aneh di makam Mbah Sarinten yakni
nisannya pernah dibuang orang kemudian nisannya kembali ketempat semula. Batu
nisan yang berada di Utara bernama Bekicot sedangkan batu nisan yang berada di
Selatan bernama Katak. Keunikan lainnya yakni setiap bulan Rajab, Ruwah, Ramadhan batu nisannya agak naik
ke atas dan apabila bulan Bodo Apit, Besar nisannya kembali ke bawah. Mbah
Sarinten mendapat gelar Danyang Karangsono Ploso karena ngrenggo (menempati) Desa Karangsono Ploso. Danyang bertugas menjaga
orang yang berada di wilayahnya.
Zaman
dahulu para danyang diberi nasihat kalau selamatan tidak boleh menggunakan tempe
karena pada zaman dahulu cara membuat tempe masih dengan tradisional, cara
memisahkan kedelai dari kulitnya dengan merendam kedelai kedalam air kemudian dikosek dengan menggunakan kaki dan
wanita yang mengkosek tempe pada
waktu itu sedang menstruasi dan tak sengaja darah haidnya menetes pada tempe
yang sedang dikosek. Jadi sampai sekarang
apabila selamatan, memberi sesaji tidak bleh dengan menggunakan tempe. Danyang
dimana pun juga tidak boleh menerima atau menyajikan sesaji tempe. Danyang Mbah
Sarinten paling suka dengan makanan Gudangan,
jadi ketika selamatan dan memberikan sesaji harus ada Gudangan dan ingkung.
Selamatan di makam Mbah Sarinten dilakukan pada bulan Suro, bulan Ruwah.
Selamatan di petilasan Nyai Rondah dan Mbah Mintorogo dilakukan pada bulan Suro
dan disebut dengan Nyadranan tanggal
1 Suro.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar