Rabu, 10 Juni 2020

Folklor Asal Usul Desa Karangsono


FOLKLOR
                                                         Asal Usul Desa Karangsono 
                                                          oleh Lisa Andriyani, S.Pd.
Karangsono berasal dari kata karang atau batu, sono artinya pohon sono. Dahulu Mbah Sumo yang tinggal di dukuh Brawah Desa Taman Sari mengutus empat orang yakni Nyai Rondah, Mbah Mintorogo, Mbah Sari Gunung, Mbah Sarinten yang merupakan saudara beliau untuk menghuni dan menjaga daerah Karangsono. Mbah Sumo membagi wilayah Karangsono dan mengutus keempat orang tersebut yakni Nyai Rondah bertempat di Sumur Besar, Mbah Mintorogo di Sawah Wetan, Mbah Sari Gunung di Kidul sekarang Karanggawang, Mbah Sarinten di Ploso. Sebelum mengutus keempat sanak kadang (keluarga) yakni Nyai Rondah, Mbah Mintorogo, Mbah Sari Gunung, Mbah Sarinten terlebih dahulu Mbah Sumo memberi pusaka kepada empat orang itu yakni Mbah Sarinten diberi pusaka berupa Akik Badar Besi dan Sabuk Nagasasra, Mbah Sari Gunung diberi kalung dengan liontin putih, Nyai Rondah diberi pusaka Payung Agung, Mbah Mintorogo diberi pusaka Singkir Angin dan semua pusaka itu kasat mata dan merupakan benda ghaib. Adapun Mbah sumo memberikan gaman atau pusaka itu pastilah mempunyai kekuatan ghaib dan mempunyai fungsi seperti pusaka Akik Badar Besi, Sabuk Nagasasra, dan  kalung berliontin putih  untuk menambah kekuatan sang pemilik juga sebagai tameng untuk menghalau serangan para musuh, pusaka Payung Agung berfungsi memayungi seluruh desa dari mara bahaya, agar penghuninya sejahtera, pusaka Singkir Angin berfungsi untuk menghalau angin topan, menghalau penyakit.
Petilasan Mbah Sari Gunung saat ini berada di bawah tower Karanggawang.  Masyarakat daerah Karanggawang pada saat bulan Suro tanggal 1 akan diadakannya selamatan agar penduduk setempat selamat dari tolak balak. Dahulu pernah kejadian jika tidak mengadakan selamatan akan ada musibah yang menimpa, salah satu penduduknya akan gila. Kemudian jika ada orang yang mempunyai hajat menikah apabila tidak diberi sesajen maka yang mempunyai hajatan akan kena musibah berupa penyakit.    
Petilasan Nyai Rondah berada di sebelah sumur gede. Keunikan sumur gede yakni pada saat musim kemarau panjang airnya tidak surut atau tidak habis. Dahulu sumur gede adalah sendang yang sumbernya disumbat dengan gong agar tidak mengeluarkan air yang banyak sehingga tidak menimbulkan bencana banjir. Sumur gede pada waktu kemarau panjang dahulu selalu didatangi para warga desa tetangga seperti Desa Kuripan, Desa Candisari.
Petilasan Mbah Mintorogo berada di sawah wetan Karangsono. Apabila ada orang yang ingin menjadi pemimpin dan ingin mendapat jawaban bisa mendatangi petilasan Mbah Mintorogo. Caranya dengan menyepi kemudian nanti akan datang pertanda atau isyarat yakni lewat mimpi kalau Mbah Mintorogo memberi kemeja maka orang tersebut nantinya akan menjadi pemimpin dan apabila diberi kaos maka orang tersebut tidak akan menjadi pemimpin namun tidak jadi pemimpinnya dalam keadaan tidak rusuh dan berlangsung damai, namun apabila diberi pusaka Abir atau Clurit maka orang tersebut tidak akan menjadi pemimpin dan akan terjadi rusuh.  
Makam Mbah Sarinten berada di Karangsono Ploso. Hal aneh di makam Mbah Sarinten yakni nisannya pernah dibuang orang kemudian nisannya kembali ketempat semula. Batu nisan yang berada di Utara bernama Bekicot sedangkan batu nisan yang berada di Selatan bernama Katak. Keunikan lainnya yakni setiap bulan Rajab, Ruwah, Ramadhan batu nisannya agak naik ke atas dan apabila bulan Bodo Apit, Besar nisannya kembali ke bawah. Mbah Sarinten mendapat gelar Danyang Karangsono Ploso karena ngrenggo (menempati) Desa Karangsono Ploso. Danyang bertugas menjaga orang yang berada di wilayahnya.  
Zaman dahulu para danyang diberi nasihat kalau selamatan tidak boleh menggunakan tempe karena pada zaman dahulu cara membuat tempe masih dengan tradisional, cara memisahkan kedelai dari kulitnya dengan merendam kedelai kedalam air kemudian dikosek dengan menggunakan kaki dan wanita yang mengkosek tempe pada waktu itu sedang menstruasi dan tak sengaja darah haidnya menetes pada tempe yang sedang dikosek. Jadi sampai sekarang apabila selamatan, memberi sesaji tidak bleh dengan menggunakan tempe. Danyang dimana pun juga tidak boleh menerima atau menyajikan sesaji tempe. Danyang Mbah Sarinten paling suka dengan makanan Gudangan, jadi ketika selamatan dan memberikan sesaji harus ada Gudangan dan ingkung. Selamatan di makam Mbah Sarinten dilakukan pada bulan Suro, bulan Ruwah. Selamatan di petilasan Nyai Rondah dan Mbah Mintorogo dilakukan pada bulan Suro dan disebut dengan Nyadranan tanggal 1 Suro.  
    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar