Kamis, 11 Juni 2020

Adat Istiadat Ruwatan (Selamatan)


                                                    Adat Istiadat Ruwatan (Selamatan)
                                                     ditulis oleh Lisa Andriyani, S.Pd.
Ruwatan artinya upacara untuk menyelamatkan anak tunggal, kalau anak laki-lakia tunggal namanya ontang-anting sedangkan kalau perempuan ontang-anting munting. Ontang-anting untuk anak laki-laki tunggal artinya anak laki-laki satu tidak ada saudaranya. Ontang-anting munting untuk anak perempuan artinya anak perempuan tunggal tidak mempunyai saudara. Tradisi Ruwatan itu biasanya dilakukan didaerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta. Di daerah Jawa Tengah yang masih melakukan adat Ruwatan yakni Salatiga, Solo, Demak yakni di Desa Karangsono Kecamatan Mrangen, Kalitengah, Gabus, Turus, Titang. Tradisi Ruwatan dilakukan oleh anak laki-laki tunggal dan anak perempuan tunggal, dan untuk anak laki-laki tunggal dilakukan pada menjelang khitanan sedangkan anak perempuan tunggal dilakukan pada saat menjelang menikah ini dilakukan untuk mencegah Bathara Kala memakan raga anak tunggal. Disebut Ruwat karena dalam bahasa Jawa yang artinya selamatan untuk menyelamati bigi anak perempuan atau laki-laki tunggal atau tidak mempunyai saudara. Bathara Kala hidup pada zamannya Bathara Guru, Bathara Bayu,atau sudah ada sejak zaman para bathara-bathara atau juga dikenal zaman purwa atau wiwitan (ora ono sing disiki kejaba kuwi). Zaman kerajaan Majapahit, kerajaan Mataram dahulu juga sudah ada Tradisi Ruwatan sampai sekarang. Ruwatan ini dilakukan karena untuk menyelamati para anak tunggal dari Bathara Kala yang suka makan raga anak tunggal dan itu sudah ada pada zaman dahulu. Ceritanya orang-orang dahulu bahwa Bathara Kala makanannya anak tunggal manusia karena para anak tunggal tidak mempunyai saudara dan itu sudah menjadi ketetapan bahwa nantinya akan menjadi santapan Bathara Kala, semua itu bisa dicegah dengan adanya upacara Ruwatan. Untuk anak laki-laki tunggal dilakukan upacara ruwatan pada saat sang anak tunggal laki-laki khitanan sedangkan untuk anak perempuan tunggal dilakukan pada saat sang anak tunggal perempuan menikah. Upacara Ruwatan ini dipimpin oleh seorang dalang yang juga keturunan dalang asli sejak dahulu dan tidak boleh sembarang dalang yang memimpin ruwatan karena bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yakni kalah perang dengan Bathara Kala karena pada prosesi Ruwatan bisa jadi apabila bukan keturunan dalang asli bisa meninggal. Sebelum Ruwatan terjadi pihak orangtua dari anak tunggal mendatangi sang dalang kemudian sang dalang melakukan puasa 7 hari sebelum hari Ruwatan ini dilakukan untuk menambah kekuatan dalang untuk mengalahkan Bathara Kala.. Ruwatan diiringi dengan pertunjukkan wayang kulit dan juga diiringi nyanyian sinden. Prosesi Ruwatan diawali dengan memandikan sang anak tunggal seperti memandikan jenazah kemudian sang anak tunggal didandanin dan diberi wewangian setelah itu di pocong layaknya pocong benaran dengan kain kafan. Setelah sang anak tunggal dipocong anak tersebut diletakkan dibawah pelepah pisang dihadapan dalang yang nantinya akan mendalang. Proses mendalangnya sang dalang yakni pertempuran antara dalang dengan Bathara Kala, pertempuran itu dilakukan dengan dua kali pertempuran. Perang pertama sang dalang mengangkat wayang Bathara Kala pada tangan kiri kemudian tangan kanan dalang memegang telur ayam kampung lalu melempar ayam kampung tersebut kearah wayang Bathara Kala. Telur ayam kampung tersebut apabila pecah menandakan bahwa telur ayam kampung tersebut dimakan Bathara Kala dan setelah itu ajaibnya telur yang sudah pecah langsung jatuh ke tampah yang diatasnya sudah diberi kain berwarna putih yang diletakkan didepan dalang.  Apabila telur ayam kampung itu tidak pecah maka berarti Bathara Kala tidak mau memakan telur tersebut karena telur tersebut kopyor (tegese abor) dan ajaibnya lagi telur yang tidak dimakan itu juga akan jatuh ke tampah yang sudah diletakkan didepan dalang. Telur ayam kampung harus berjumlah 40 telur. Proses melemparkan telur ayam kampung tersebut disebut perang pertama dan perang kedua ditandai dengan munculnya punakawan yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong du gujekan yang menandai berakhirnya upacara Ruwatan. Apabila upacara Ruwatan ini tidak dilakukan oleh orangtua dari yang mempunyai anak tunggal maka anak tersebut umurnya tidak akan lama lagi akan meninggal, karena anak tersebut sudah diawasi oleh Bathara Kala yang nanti akan memakannya. Anak tunggal yang sudah diawasi Bathara Kala umurnya tidak akan sampai tua matinya dan sejak dahulu nenek moyang sudah mengingatkan. Kemudian apabila upacara Ruwatan tidak dilakukan dan sang anak tunggal meninggal dunia, kuburan sang anak tunggal itu akan bolong (mayitnya sudah tidak ada karena mayitnya sudah di makan Bathara Kala).      
          
Sumber dari hasil wawancara dengan Kakek saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar