Adat Istiadat Ruwatan (Selamatan)
ditulis oleh Lisa Andriyani, S.Pd.
Ruwatan
artinya upacara untuk menyelamatkan anak tunggal, kalau anak laki-lakia tunggal
namanya ontang-anting sedangkan kalau perempuan ontang-anting munting.
Ontang-anting untuk anak laki-laki tunggal artinya anak laki-laki satu tidak
ada saudaranya. Ontang-anting munting untuk anak perempuan artinya anak
perempuan tunggal tidak mempunyai saudara. Tradisi Ruwatan itu biasanya
dilakukan didaerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta. Di daerah Jawa Tengah
yang masih melakukan adat Ruwatan yakni Salatiga, Solo, Demak yakni di Desa Karangsono
Kecamatan Mrangen, Kalitengah, Gabus, Turus, Titang. Tradisi Ruwatan dilakukan
oleh anak laki-laki tunggal dan anak perempuan tunggal, dan untuk anak
laki-laki tunggal dilakukan pada menjelang khitanan sedangkan anak perempuan
tunggal dilakukan pada saat menjelang menikah ini dilakukan untuk mencegah Bathara
Kala memakan raga anak tunggal. Disebut Ruwat karena dalam bahasa Jawa yang
artinya selamatan untuk menyelamati bigi anak perempuan atau laki-laki tunggal
atau tidak mempunyai saudara. Bathara Kala hidup pada zamannya Bathara Guru,
Bathara Bayu,atau sudah ada sejak zaman para bathara-bathara atau juga dikenal
zaman purwa atau wiwitan (ora ono sing disiki kejaba kuwi). Zaman kerajaan
Majapahit, kerajaan Mataram dahulu juga sudah ada Tradisi Ruwatan sampai
sekarang. Ruwatan ini dilakukan karena untuk menyelamati para anak tunggal dari
Bathara Kala yang suka makan raga anak tunggal dan itu sudah ada pada zaman
dahulu. Ceritanya orang-orang dahulu bahwa Bathara Kala makanannya anak tunggal
manusia karena para anak tunggal tidak mempunyai saudara dan itu sudah menjadi
ketetapan bahwa nantinya akan menjadi santapan Bathara Kala, semua itu bisa
dicegah dengan adanya upacara Ruwatan. Untuk anak laki-laki tunggal dilakukan
upacara ruwatan pada saat sang anak tunggal laki-laki khitanan sedangkan untuk
anak perempuan tunggal dilakukan pada saat sang anak tunggal perempuan menikah.
Upacara Ruwatan ini dipimpin oleh seorang dalang yang juga keturunan dalang
asli sejak dahulu dan tidak boleh sembarang dalang yang memimpin ruwatan karena
bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yakni kalah perang dengan Bathara
Kala karena pada prosesi Ruwatan bisa jadi apabila bukan keturunan dalang asli
bisa meninggal. Sebelum Ruwatan terjadi pihak orangtua dari anak tunggal
mendatangi sang dalang kemudian sang dalang melakukan puasa 7 hari sebelum hari
Ruwatan ini dilakukan untuk menambah kekuatan dalang untuk mengalahkan Bathara
Kala.. Ruwatan diiringi dengan pertunjukkan wayang kulit dan juga diiringi
nyanyian sinden. Prosesi Ruwatan diawali dengan memandikan sang anak tunggal
seperti memandikan jenazah kemudian sang anak tunggal didandanin dan diberi
wewangian setelah itu di pocong layaknya pocong benaran dengan kain kafan.
Setelah sang anak tunggal dipocong anak tersebut diletakkan dibawah pelepah
pisang dihadapan dalang yang nantinya akan mendalang. Proses mendalangnya sang
dalang yakni pertempuran antara dalang dengan Bathara Kala, pertempuran itu
dilakukan dengan dua kali pertempuran. Perang pertama sang dalang mengangkat
wayang Bathara Kala pada tangan kiri kemudian tangan kanan dalang memegang
telur ayam kampung lalu melempar ayam kampung tersebut kearah wayang Bathara
Kala. Telur ayam kampung tersebut apabila pecah menandakan bahwa telur ayam
kampung tersebut dimakan Bathara Kala dan setelah itu ajaibnya telur yang sudah
pecah langsung jatuh ke tampah yang diatasnya
sudah diberi kain berwarna putih yang diletakkan didepan dalang. Apabila telur ayam kampung itu tidak pecah
maka berarti Bathara Kala tidak mau memakan telur tersebut karena telur
tersebut kopyor (tegese abor) dan ajaibnya lagi telur yang tidak dimakan itu juga
akan jatuh ke tampah yang sudah
diletakkan didepan dalang. Telur ayam kampung harus berjumlah 40 telur. Proses
melemparkan telur ayam kampung tersebut disebut perang pertama dan perang kedua
ditandai dengan munculnya punakawan yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong du gujekan yang menandai berakhirnya
upacara Ruwatan. Apabila upacara Ruwatan ini tidak dilakukan oleh orangtua dari
yang mempunyai anak tunggal maka anak tersebut umurnya tidak akan lama lagi
akan meninggal, karena anak tersebut sudah diawasi oleh Bathara Kala yang nanti
akan memakannya. Anak tunggal yang sudah diawasi Bathara Kala umurnya tidak
akan sampai tua matinya dan sejak dahulu nenek moyang sudah mengingatkan.
Kemudian apabila upacara Ruwatan tidak dilakukan dan sang anak tunggal
meninggal dunia, kuburan sang anak tunggal itu akan bolong (mayitnya sudah
tidak ada karena mayitnya sudah di makan Bathara Kala).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar