Senin, 18 Juli 2016

Lapis Puisi Perayaan Laut Karya Setia Naka Andrian


Nama: Lisa Andriyani
Kelas: 4D
NPM: 14410168

PERAYAAN LAUT
(Karya Setia Naka Andrian)
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita di laut
Agar ikan-ikan semakin gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya pelan-pelan
dengan penuh ciuman,

Hari-hari telah sepakat
menari sambil menelusuri pantai
yang mendoakan kita kepada kematian,
Agar keselamatan mata kita
akan semakin berpelukan
dalam wirid yang semakin memanjang,

Hari-hari semakin berenang
di atas kapal yang penuh dengan genangan pasir
dalam perayaan laut yang tumbuh dengan seribu badai
dan tepuk tangan,
Agar kelak rumah kita semakin abadi
menjadi perahu
yang tumbuh dari kampung-kampung penangkap ikan,

dan kita akan semakin khusyuk berpesta,
 bersama kumpulan orang-orang yang merayakan laut
di atas doa dan isyarat yang sangat dekat
dengan kapal penjual ikan,

1.     Lapis Bunyi
Lapis bunyi berupa deretan bunyi-bunyi fonem. Bunyi fonem itu berderet dan bergabung menjadi satuan lebih besar sesuai dengan konvensi bahasa (bahasa Indonesia).
Dalam sajak pembicaraan lapis bunyi harus ditujukan pada bunyi yang bersifat istimewa atau khusus yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan  efek puitis atau nilai seni. Lapis bunyi itu menjadi dasar timbulnya lapis kedua.
Misalnya pada bait pertama.
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita di laut
Agar ikan-ikan semakin gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya pelan-pelan
dengan penuh ciuman,
Bait pertama baris kelima dan enam ada asonansi e dan a (dan membunuhnya pelan-pelan dengan penuh ciuman,)
Dalam bait pertama terdapat asonasi e dan a karena pada umumnya dalam sajak itu bunyi-bunyi yang dominan adalah vocal suara e dan a.

2.     Lapis Arti
Berupa rangkain fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan arti. Rangkaian satuan-satuan arti menimbulkan lapis ketiga.
Dalam  menganalisis sajak berdasarkan lapis arti itu menerangkan arti tiap kata, kelompok kata, dan kalimat berdasarkan arti linguistiknya supaya menjadi jelas. Lebih-lebih kata yang tidak biasa.
Bait pertama memiliki arti bahwa takdir lah yang telah sepakat mempertemukan dua insan, kedua insan yang jatuh cinta memutuskan untuk menikah.
Bait kedua memiliki arti takdir pula lah yang nantinya akan memisahkan dua insan tersebut yakni setelah mereka menikah. Menikah seperti lautan  kehidupan yang nantinya pasti ada badai, ombak, masalah yang menghampiri. Laut itu akan berujung dan berlabuh di pantai, pantai merupakan pelabuhan terakhir yang berarti kematian, hanya doa dan shalat malam yang menjadi perekat kedua insan tersebut.
Bait ketiga memiliki arti takdir telah mulai menguji dengan cobaan dimulai dengan kerikil-kerikil masalah kecil. Dalam suatu hubungan mahligai rumah tangga, pernikahan tak akan luput dari suatu persoalan, masalah, cobaan, dan celaan juga dari orang lain. Namun apabila sepasang kekasih itu saling percaya dan setia maka rintangan apa pun akan sirna bahkan terkadang terkandung hikmah yang tiada tara nikmatnya.
Bait keempat memiliki arti ketika syahdunya hawa perayaan pernikahan maka semakin banyak lah doa yang mengalir deras dari orang-orang yang hadir di pernikahan. Setiap doa yang mengalir akan menjadi layar-layar yang akan membantu dalam mengarungi laut yang penuh badai. Doa dari para hadirin sangat perlu karena doa yang berasal dari suatu perayaan laut nan sakral ini juga pasti tentunya akan mujarab. Karena doa orang banyak turut mempengaruhi bagaimana lautan itu kelak akan dilewati.  

3.     Lapis Dunia Pengarang (Lapis ketiga)
Disebut dunia pengarang karena cerita itu hanya bersifat rekaan. Unsur-unsur lapis dunia pengarang berupa: objek-objek yang dikemukakan.
Pelaku atau tokoh
Latar waktu
Latar tempat
Dunia pengarang
Berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan.
Dalam Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian dunia yang dikemukakan itu merupakan peristiwa yang dialami semua orang dalam memulai mahligai rumah tangga dan hal demikian pula lah yang dialami oleh Setia Naka Andrian, Perayaan Laut merupakan  kado pernikahan pengarang dan dialami sendiri oleh pengarang .
Unsur-unsur lapis dunia pengarang berupa: objek-objek yang dikemukakan:  laut, pantai, kapal, perahu, kampung penangkap ikan.

Pelaku atau tokoh:  kita (sepasang kekasih)
Latar waktu: malam hari (wirid)
Latar tempat: laut

4.     Lapis Dunia yang Implisit (Lapis keempat)
Berupa sugesti-sugesti atau kiasan-kiasan. dunia yang dipandang dari sudut pandang tertentu yang tidak usah dinyatakan (implisit). Tidak usah dikatakan malam, tapi dengan adanya bulan memancar itu berarti malam hari. Laut terang berarti juga tidak hujan, tidak berkabut (hakikat puis berupa pemadatan).
Yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu dinyatakan, tetapi terkandung dalamnya. Sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat”.
Puisi merupakan  ekspresi tidak langsung. Sajak tersebut merupakan kiasan manusia pada umumnya.
Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian ini menceritakan awal sebuah komitmen yang tak main-main yakni pernikahan, takdir lah yang mempertemukan sepasang kekasih, pernikahan merupakan babak baru dalam kehidupan yang baru pula, tak luput dari yang namanya persoalan (badai). Hanya doa dari rekan-rekan dalam pernikahan itu lah yang akan menguatkan sekaligus penghalang keretakan rumah tangga (bersama dengan kumpulan orang-orang yang merayakan laut, di atas doa dan isyarat yang sangat dekat)

5.     Lapis Metafiris (lapis kelima)
Menyebabkan pembaca berkontemplasi. Berupa sifat-sifat metafisis yang sublim, tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci. Dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan kepada pembaca.
Lapis Metafiris puisi Perayaan Laut adalah pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang baru, kehidupan pernikahan pasti ada yang namanya sandungan kerikil, entah itu masalah kecil atau besar. Bagaimana pun pernikahan harus lah selalu diiringi dengan doa karena doa itu lah penentu keharmonisan rumah tangga.   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar