Makalah
Kajian Puisi
Makalah
ini disusun untuk mata kuliah: Kajian Puisi
Dosen
Pengampu: Setia Naka Andrian, S.Pd., M.Pd.
Disusun
Oleh:
Isti
Rizkia Putri (14410140/4D)
Lisa
Andriyani (14410168/4D)
Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
Universitas PGRI Semarang
2016
KATA PENGANTAR
Dengan
mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala anugerah-Nya karena dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah
dengan lancar.
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Puisi. Dengan
ini disampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu
dalam tersusunnya makalah, kami menyampaikan rasa terimakasih kepada :
1. Kedua
orang tua yang telah memberikan doa dan semangat serta fasilitas yang mendukung.
2. Setia
Naka Andrian, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Kajian Puisi yang telah mendidik,
membimbing kami.
3. Teman-teman
kelas 4D yang telah memberikan semangat.
Kami
menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan kemampuan dalam menyusun makalah, sehingga jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun, sangat kami
harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Semarang, 14 Mei 2016
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A. Latar
Belakang.............................................................................. 1
B. Rumusan
Masalah......................................................................... 1
C. Tujuan............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 2
A.
Unsur
Bunyi..................................................................................... 2
B.
Unsur
Bahasa Kiasan...................................................................... 7
C.
Unsur
Tipografi............................................................................... 8
D.
Unsur
Tema Puisi............................................................................ 9
E.
Lapis
Puisi....................................................................................... 10
F.
Teori
Abrams.................................................................................. 13
BAB III PENUTUP..................................................................................... 16
A. Simpulan.......................................................................................... 16
B. Saran................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Secara
konvensional, sastra terdiri atas tiga genre, yakni puisi, prosa, dan drama. Puisi
merupakan salah satu genre yang paling tua. Jika ditelusuri, sudah banyak
definisi puisi. Dalam pandangan tradisional, puisi (poetry) merupakan ragam sastra yang terikat oleh unsur-unsurnya.,
seperti irama, rima, matra, baris, dan bait (Yusuf, 1995:225). Menurut Carlyle puisi merupakan hasil
pemikiran yang bersifat musikal.
B. Rumusan
Masalah
Bagaimana
penjelasan mengenai unsur bunyi?
Bagaimana
penjelasan mengenai unsur bahasa kiasan?
Bagaimana
penjelasan mengenai unsur tipografi?
Bagaimana
penjelasan mengenai unsur tema puisi?
Bagaimana
penjelasan mengenai lapis puisi?
Bagaimana penjelasan mengenai teori
Abrams?
C. Tujuan
Mengetahui unsur bunyi.
Mengetahui unsur bahasa
kiasan.
Mengetahui unsur
tipografi.
Mengetahui unsur tema
puisi.
Mengetahui lapis puisi.
Mengetahui teori
Abrams.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Unsur
Bunyi
Bunyi
merupakan penanda yang dapat diamati melalui pendengaran dan atau penglihatan.
Dalam puisi, bunyi memiliki peran antara lain adalah agar puisi itu merdu
ketika dibaca dan didengarkan, sebab pada hakikatnya puisi adalah merupakan
salah satu karya seni yang diciptakan untuk didengarkan (Sayuti, 2002:102).
Mengingat
pentingnya unsur bunyi dalam puisi, bahkan seorang penyair melakukan pemilihan
dan penempatan kata sering kali didasarkan pada nilai bunyi. Beberapa
pertimbangan tersebut antara lain: 1) bagaimanakah kekuatan bunyi suatu kata
yang dipilih itu diperkirakan mampu memberikan atau membangkitkan tanggapan
pada pikiran dan perasaan pembaca atau pendengarnya; 2) bagaimanakah bunyi itu
sanggup membantu memperjelas ekspresi; 3) ikut membangun suasana puisi; 4)
mungkin juga mampu membangkitkan asosiasi-asosiasi tertentu (Sayuti, 2002:103).
Unsur
bunyi puisi umumnya dapat diklasifikasikan, yaitu sajak sempurna, sajak paruh,
aliterasi, dan asonansi.
Dari posisi kata yang
mendukungnya dikenal dengan adanya sajak awal, sajak tengah (sajak dalam),
sajak akhir. Berdasarkan hubungan antarbaris dalam tiap bait dikenal adanya
sajak merata (terus), sajak berselang, sajak berangkai, dan sajak berpeluk.
Contoh
puisi pertama
PERAYAAN LAUT
Karya Setia Naka
Andrian
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita
di laut
Agar ikan-ikan semakin
gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya pelan-pelan
dengan penuh ciuman,
Hari-hari telah sepakat
menari sambil
menelusuri pantai
yang mendoakan kita
kepada kematian,
Agar keselamatan mata
kita
akan semakin berpelukan
dalam wirid yang
semakin memanjang,
Hari-hari semakin
berenang
di atas kapal yang
penuh dengan genangan pasir
dalam perayaan laut
yang tumbuh dengan seribu badai
dan tepuk tangan,
Agar kelak rumah kita
semakin abadi
menjadi perahu
yang tumbuh dari
kampung-kampung penangkap ikan,
dan kita akan semakin
khusyuk berpesta,
bersama kumpulan orang-orang yang merayakan
laut
di atas doa dan isyarat
yang sangat dekat
dengan kapal penjual
ikan,
Juli 2013
Contoh
Puisi kedua
Asmarandana
Karya Goenawan Mohamad
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan
guyur sisa hujan dari
daun,
karena angin pada kemuning. Ia
dengar resah kuda serta
langkah
pedati ketika langit bersih kembali
menampakkan bimasakti
yang jauh. Tapi di antara mereka
berdua, tidak ada yang
berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu,
kematian itu. Ia melihat
peta, nasib, perjalanan dan sebuah
peperangan yang
semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan
menangis. Sebab bila
esok pagi pada rumput halaman ada
tapak yang menjauh ke
utara, ia tak akan lagi mencatat
yang telah lewat dan yang
akan tiba
karena ia tak berani lagi.
Anjasmara, adikku, tinggallah
seperti dulu.
Bulanpun lamban dalam angin, abai dalam
waktu
Lewat remang dan kunang-kunang,
kaulupakan wajahku,
Kaulupakan wajahmu.
(Goenawan
Mohamad, “Asmarandana”, Parikesit,
1971)
Sajak sempurna adalah ulangan bunyi yang
timbul sebagai akibat ulangan kata tertentu, seperti tampak pada puisi
Asmarandana. Asonansi adalah ulangan bunyi vokal yang terdapat pada baris baris
puisi, yang menimbulkan irama tertentu, sementara aliterasi dalam ulangan konsonan.
Asonansi, misalnya juga terdapat pada puisi Asmarandana.
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan
guyur sisa hujan dari
daun,
karena angin pada kemuning. Ia
dengar resah kuda serta
langkah
pedati ketika langit bersih kembali
menampakkan bimasakti
yang jauh …
(Goenawan
Mohamad, “Asmarandana”, Parikesit,
1971)
Pada kutipan tersebut terdapat asonansi
berupa ulangan bunyi i-a-e-a-u-a-a-i,
berulang-ulang sepanjang baris-baris puisi tersebut yang menimbulkan irama,
sehingga puisi enak dibaca.
Dalam kutipan tersebut terdapat
aliterasi, terutama pada konsonan d, k,
p, l, n, ng, r, s yang ketika dikombinasikan dengan bunyi cenderung menimbulkan
irama suasana muram. Oleh karena itu, sesuai dengan suasana yang ditimbulkan
oleh ulangan bunyi dikenal dengan cacophony
(bunyi yang menimbulkan suasana muram dan tidak menyenangkan).
Asonansi pada puisi Perayaan Laut
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita
di laut
...
Hari-hari telah sepakat
menari sambil
menelusuri pantai
…
(Setia Naka Andrian, “Perayaan Laut”, Perayaan
Laut, 2013)
Pada kutipan tersebut terdapat asonansi
berupa ulangan bunyi a-i, a-i, e-a, e-a pada baris pertama, berulang-ulang
sepanjang baris-baris puisi tersebut yang menimbulkan irama sehingga puisi enak
dibaca.
Dalam kutipan tersebut juga terdapat
aliterasi, terutama pada ulangan konsonan h, r, t, l, s, p, k yang ketika
dikombinasikan dengan bunyi asonansi cenderung menimbulkan irama dan suasana
bahagia. Oleh karena itu, sesuai dengan suasana yang ditimbulkan oleh ulangan
bunyi dikenal dengan ephony (bunyi
yang menimbulkan suasana menyenangkan).
B.
Unsur
Bahasa Kiasan
Bahasa
kiasan (figurative language)
merupakan penyimpangan dari pemakaian bahasa yang biasa yang makna katanya atau
rangkaian katanya digunakan dengan tujuan untuk mencapai efek tertentu (Abrams,
1981). Bahasa kiasan memiliki beberapa jenis yaitu personifikasi, metafora, perumpaan
(simile), metonomia, sinekdoki, dan alegori (Pradopo, 1978).
Puisi Asmarandana memiliki bahasa kiasan jenis metonimia. Metonomia
(pengganti nama) diartikan sebagai pengertian yang satu dipergunakan sebagai
pengertian yang lain yang berdekatan. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan pada
baris sebagai berikut.
Lalu ia ucapkan
perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat
Perpisahan itu merupakan metonomia dari
kematian.
Puisi Perayaan Laut memiliki bahasa kiasan jenis metafora. Metafora
adalah kiasan yang menyatakan sesuatu sebagai hal yang sebanding dengan hal
lain, yang sesungguhnya tidak sama (Altenberg, dan Lewis, 1969). Hal tersebut
dapat dilihat dari kutipan pada baris sebagai berikut.
Hari-hari semakin
berenang
di atas kapal yang
penuh dengan genangan pasir
dalam perayaan laut
yang tumbuh dengan seribu badai
Perayaan laut merupakan kiasan untuk menyebutkan
makna pernikahan.
Badai
merupakan kiasan untuk permasalahan di dalam kehidupan berumah tangga.
C.
Unsur
Tipografi
Menurut
Aminuddin (1987:146) tipografi dalam puisi berfungsi sebagai penampilan yang
artistik serta memberikan nuansa makna dan suasana tertentu.
PERAYAAN LAUT
Karya Setia Naka
Andrian
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita
di laut
Agar ikan-ikan semakin
gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya
pelan-pelan
dengan penuh ciuman,
Puisi Perayaan Laut merupakan puisi yang berjenis dari tipografi konvensional.
Asmarandana
Karya Goenawan Mohamad
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan
guyur sisa hujan dari
daun,
karena angin pada kemuning. Ia
dengar resah kuda serta
langkah
Puisi Asmarandana merupakan puisi yang
berjenis dari tipografi bentuk lukisan atau ruang tertentu.
D.
Unsur
Tema Puisi
Berdasarkan penafsiran pada puisi Perayaan Laut dapat dirumuskan tema
puisi, yakni tentang “perayaan pernikahan yang merupakan keputusan sepasang
kekasih dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan soal, permasalahan, ujian
kehidupan”.
Berdasarkan penafsiran pada puisi Asmarandana dapat dirumuskan tema puisi,
yakni tentang “kisah percintaan yang pada akhirnya dipisahkan oleh kematian”.
E.
Lapis
Puisi
Menurut
Ingarden karya sastra itu terdiri atas lapis norma yaitu :
(1) lapis
bunyi,
(2) lapis arti,
(3) lapis dunia
pengarang,
(4) lapis dunia
dilihat dari sudut pandang tertentu yang implicit, dan
(5) lapis
metafiris.
Puisi Perayaan Laut dikaji berdasarkan lapis
norma, yakni sebagai berikut.
1. Lapis Bunyi
Lapis bunyi berupa deretan bunyi-bunyi
fonem. Bunyi fonem itu berderet dan bergabung menjadi satuan lebih besar sesuai
dengan konvensi bahasa (bahasa Indonesia).
Dalam sajak pembicaraan lapis bunyi
harus ditujukan pada bunyi yang bersifat istimewa atau khusus yaitu yang dipergunakan untuk
mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Lapis bunyi
itu menjadi dasar timbulnya lapis kedua.
Misalnya
pada bait pertama.
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita
di laut
Agar ikan-ikan semakin
gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya
pelan-pelan
dengan penuh ciuman,
Bait pertama baris kelima dan enam ada
asonansi e dan a (dan
membunuhnya pelan-pelan dengan penuh ciuman,)
Dalam bait pertama terdapat
asonasi e dan a karena pada
umumnya dalam sajak itu bunyi-bunyi yang dominan adalah vocal suara e
dan a.
2.
Lapis Arti
Berupa rangkain
fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan arti.
Rangkaian satuan-satuan arti menimbulkan lapis ketiga.
Dalam
menganalisis sajak berdasarkan lapis arti itu menerangkan arti tiap
kata, kelompok kata, dan kalimat berdasarkan arti linguistiknya supaya menjadi
jelas. Lebih-lebih kata yang tidak biasa.
Bait pertama memiliki arti
bahwa takdir lah yang telah sepakat mempertemukan dua insan, kedua insan yang
jatuh cinta memutuskan untuk menikah.
Bait kedua memiliki arti
takdir pula lah yang nantinya akan memisahkan dua insan tersebut yakni setelah
mereka menikah. Menikah seperti lautan
kehidupan yang nantinya pasti ada badai, ombak, masalah yang
menghampiri. Laut itu akan berujung dan berlabuh di pantai, pantai merupakan
pelabuhan terakhir yang berarti kematian, hanya doa dan shalat malam yang
menjadi perekat kedua insan tersebut.
Bait ketiga memiliki arti takdir
telah mulai menguji dengan cobaan dimulai dengan kerikil-kerikil masalah kecil.
Dalam suatu hubungan mahligai rumah tangga, pernikahan tak akan luput dari
suatu persoalan, masalah, cobaan, dan celaan juga dari orang lain. Namun
apabila sepasang kekasih itu saling percaya dan setia maka rintangan apa pun
akan sirna bahkan terkadang terkandung hikmah yang tiada tara nikmatnya.
Bait keempat memiliki arti ketika
syahdunya hawa perayaan pernikahan maka semakin banyak lah doa yang mengalir
deras dari orang-orang yang hadir di pernikahan. Setiap doa yang mengalir akan
menjadi layar-layar yang akan membantu dalam mengarungi laut yang penuh badai.
Doa dari para hadirin sangat perlu karena doa yang berasal dari suatu perayaan
laut nan sakral ini juga pasti tentunya akan mujarab. Karena doa orang banyak
turut mempengaruhi bagaimana lautan itu kelak akan dilewati.
3.
Lapis Dunia
Pengarang (Lapis ketiga)
Disebut dunia
pengarang karena cerita itu hanya bersifat rekaan. Unsur-unsur lapis dunia
pengarang berupa: objek-objek yang
dikemukakan.
Berupa latar,
pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita
atau lukisan.
Dalam Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian dunia yang
dikemukakan itu merupakan peristiwa yang dialami semua orang dalam memulai
mahligai rumah tangga dan hal demikian pula lah yang dialami oleh Setia Naka
Andrian, Perayaan Laut merupakan kado pernikahan pengarang dan dialami sendiri
oleh pengarang .
Unsur-unsur
lapis dunia pengarang berupa: objek-objek
yang dikemukakan: laut,
pantai, kapal, perahu, kampung penangkap ikan.
Pelaku atau tokoh: kita (sepasang kekasih)
Latar waktu: malam hari
(wirid)
Latar tempat: laut
4.
Lapis Dunia
yang Implisit (Lapis keempat)
Berupa sugesti-sugesti atau kiasan-kiasan. dunia yang
dipandang dari sudut pandang tertentu yang tidak usah dinyatakan (implisit). Tidak usah
dikatakan malam, tapi dengan adanya bulan memancar itu berarti malam hari. Laut
terang berarti juga tidak hujan, tidak berkabut (hakikat puis berupa
pemadatan).
Yang dipandang dari titik pandang
tertentu yang tidak perlu dinyatakan, tetapi terkandung dalamnya. Sebuah
peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau
“terlihat”.
Puisi
merupakan ekspresi tidak langsung. Sajak
tersebut merupakan kiasan manusia pada umumnya.
Perayaan
Laut karya Setia Naka Andrian ini
menceritakan awal sebuah komitmen yang tak main-main yakni pernikahan, takdir
lah yang mempertemukan sepasang kekasih, pernikahan merupakan babak baru dalam
kehidupan yang baru pula, tak luput dari yang namanya persoalan (badai). Hanya
doa dari rekan-rekan dalam pernikahan itu lah yang akan menguatkan sekaligus
penghalang keretakan rumah tangga (bersama
dengan kumpulan orang-orang yang merayakan laut, di atas doa dan isyarat yang
sangat dekat)
5.
Lapis
Metafiris (lapis kelima)
Menyebabkan pembaca
berkontemplasi. Berupa sifat-sifat metafisis yang sublim, tragis,
mengerikan atau menakutkan, dan yang suci. Dengan sifat-sifat ini seni dapat
memberikan renungan kepada pembaca.
Lapis
Metafiris puisi Perayaan Laut adalah
pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang baru, kehidupan pernikahan pasti
ada yang namanya sandungan kerikil, entah itu masalah kecil atau besar.
Bagaimana pun pernikahan harus lah selalu diiringi dengan doa karena doa itu
lah penentu keharmonisan rumah tangga.
F.
Teori
Abrams
Abrams berpendapat bahwa adanya hubungan antara pengarang,
semestaan, pembaca, dan karya sastra. Abrams membuat diagram yang terdiri atas
empat pendekatan. Pendekatan tersebut meliputi pendekatan objektif, ekspresif,
mimetik, dan pragmatik. Dengan demikian, model Abrams sangat bermanfaat untuk
memahami secara lebih baik keanekaragaman teori sastra (Teeuw,1984).
Menurut Abrams pendekatan pragmatik
merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk
menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti tujuan pendidikan, moral
agama atau tujuan yang lainnya. Pendekatan pragmatik mengkaji karya sastra
berdasarkan fungsinya untuk memberikan tujuan-tujuan tertentu bagi pembacanya.
Semakin banyak nilai-nilai, ajaran-ajaran yang diberikan kepada pembaca maka
semakin baik karya sastra tersebut.
Puisi Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian
dikaji dengan pendekatan pragmatik. Puisi Perayaan
Laut menjelaskan bahwa pernikahan
merupakan awal dari kehidupan yang baru, kehidupan pernikahan pasti ada yang
namanya sandungan kerikil, entah itu masalah kecil atau besar. Bagaimana pun
pernikahan harus lah selalu diiringi dengan doa karena doa itu lah penentu
keharmonisan rumah tangga. Ada pun nilai-nilai yang disampaikan penulis puisi Perayaan Laut kepada pembaca yaitu ada
nilai religius atau agama. Nilai religius atau agama dapat terlihat pada
kutipan puisi berikut ini.
dan kita
akan semakin khusyuk berpesta,
bersama kumpulan orang-orang yang merayakan
laut
di atas doa dan isyarat
yang sangat dekat
dengan kapal penjual
ikan,
Puisi Asmarandana
karya Goenawan Mohamad dikaji dengan pendekatan pragmatik. Puisi Asmarandana menjelaskan bahwa Anjasmara
telah berpisah dengan kekasihnya. Kekasihnya maju dalam medan peperangan dan
perpisahan itu terjadi karena sang kekasih Anjasmara meninggal dalam peperangan.
Ada pun nilai-nilai yang disampaikan penulis puisi Asmarandana kepada pembaca yaitu nilai moral. Nilai moral yang
disampaikan penulis puisi yaitu apa bila kita ditinggal wafat kekasih kita
dalam medan peperangan jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Semua pertemuan,
perpisahan, percintaan sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Hidup harus terus berjalan
bagaimana pun keadaan dan segala musibah yang dialami. Tuhan tidak akan menguji
hambaNya diluar batas kemampuan hambaNya. Jadi segala ujian yang Tuhan berikan
itu kita mampu untuk melewati karena Tuhan yakin kita pasti bisa menghadapi
ujian itu. Nilai moral yang diajarkan yaitu sikap berlapang dada menerima takdir,
menjadi pribadi yang tangguh, jangan berlarut-larut dalam kesedihan
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Puisi
Asmarandana memiliki bahasa kiasan jenis metonimia. Puisi Perayaan Laut memiliki bahasa kiasan
jenis metafora.
Puisi
Perayaan Laut merupakan puisi yang
berjenis dari tipografi konvensional. Puisi Asmarandana
merupakan puisi yang berjenis dari tipografi bentuk lukisan atau ruang
tertentu.
Puisi
Perayaan Laut dapat dirumuskan tema
puisi, yakni tentang “perayaan pernikahan yang merupakan keputusan sepasang
kekasih dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan soal, permasalahan, ujian
kehidupan”. Berdasarkan penafsiran pada puisi Asmarandana dapat dirumuskan tema puisi, yakni tentang “kisah
percintaan yang pada akhirnya dipisahkan oleh kematian”.
Puisi
Perayaan Laut karya Setia Naka
Andrian dikaji dengan pendekatan pragmatik. Puisi Perayaan Laut menjelaskan bahwa pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang baru,
kehidupan pernikahan pasti ada yang namanya sandungan kerikil, entah itu
masalah kecil atau besar. Ada pun nilai-nilai yang disampaikan penulis puisi Perayaan Laut kepada pembaca yaitu ada
nilai religius atau agama.
Puisi
Asmarandana karya Goenawan Mohamad
dikaji dengan pendekatan pragmatik. Puisi Asmarandana
menjelaskan bahwa Anjasmara telah berpisah dengan kekasihnya. Kekasihnya
maju dalam medan peperangan dan perpisahan itu terjadi karena sang kekasih
Anjasmara meninggal dalam peperangan. Ada pun nilai-nilai yang disampaikan
penulis puisi Asmarandana kepada
pembaca yaitu nilai moral.
B. Saran
Apresiasi
dan kajian puisi bukan sekadar untuk menggali informasi tentang pengarang dan
amanat yang disampaikan. Akan tetapi, terkesan lebih menghidupkan dan
melestarikan puisi itu sebagai karya yang tiada tara memiliki estetika dan tak
ada ruginya untuk dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1987.Pengantar Apresiasi Sastra.Bandung:Sinar Baru.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta:
Gama Media.
Teeuw. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka
Jaya.