Senin, 18 Juli 2016

Lapis Puisi Perayaan Laut Karya Setia Naka Andrian


Nama: Lisa Andriyani
Kelas: 4D
NPM: 14410168

PERAYAAN LAUT
(Karya Setia Naka Andrian)
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita di laut
Agar ikan-ikan semakin gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya pelan-pelan
dengan penuh ciuman,

Hari-hari telah sepakat
menari sambil menelusuri pantai
yang mendoakan kita kepada kematian,
Agar keselamatan mata kita
akan semakin berpelukan
dalam wirid yang semakin memanjang,

Hari-hari semakin berenang
di atas kapal yang penuh dengan genangan pasir
dalam perayaan laut yang tumbuh dengan seribu badai
dan tepuk tangan,
Agar kelak rumah kita semakin abadi
menjadi perahu
yang tumbuh dari kampung-kampung penangkap ikan,

dan kita akan semakin khusyuk berpesta,
 bersama kumpulan orang-orang yang merayakan laut
di atas doa dan isyarat yang sangat dekat
dengan kapal penjual ikan,

1.     Lapis Bunyi
Lapis bunyi berupa deretan bunyi-bunyi fonem. Bunyi fonem itu berderet dan bergabung menjadi satuan lebih besar sesuai dengan konvensi bahasa (bahasa Indonesia).
Dalam sajak pembicaraan lapis bunyi harus ditujukan pada bunyi yang bersifat istimewa atau khusus yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan  efek puitis atau nilai seni. Lapis bunyi itu menjadi dasar timbulnya lapis kedua.
Misalnya pada bait pertama.
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita di laut
Agar ikan-ikan semakin gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya pelan-pelan
dengan penuh ciuman,
Bait pertama baris kelima dan enam ada asonansi e dan a (dan membunuhnya pelan-pelan dengan penuh ciuman,)
Dalam bait pertama terdapat asonasi e dan a karena pada umumnya dalam sajak itu bunyi-bunyi yang dominan adalah vocal suara e dan a.

2.     Lapis Arti
Berupa rangkain fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan arti. Rangkaian satuan-satuan arti menimbulkan lapis ketiga.
Dalam  menganalisis sajak berdasarkan lapis arti itu menerangkan arti tiap kata, kelompok kata, dan kalimat berdasarkan arti linguistiknya supaya menjadi jelas. Lebih-lebih kata yang tidak biasa.
Bait pertama memiliki arti bahwa takdir lah yang telah sepakat mempertemukan dua insan, kedua insan yang jatuh cinta memutuskan untuk menikah.
Bait kedua memiliki arti takdir pula lah yang nantinya akan memisahkan dua insan tersebut yakni setelah mereka menikah. Menikah seperti lautan  kehidupan yang nantinya pasti ada badai, ombak, masalah yang menghampiri. Laut itu akan berujung dan berlabuh di pantai, pantai merupakan pelabuhan terakhir yang berarti kematian, hanya doa dan shalat malam yang menjadi perekat kedua insan tersebut.
Bait ketiga memiliki arti takdir telah mulai menguji dengan cobaan dimulai dengan kerikil-kerikil masalah kecil. Dalam suatu hubungan mahligai rumah tangga, pernikahan tak akan luput dari suatu persoalan, masalah, cobaan, dan celaan juga dari orang lain. Namun apabila sepasang kekasih itu saling percaya dan setia maka rintangan apa pun akan sirna bahkan terkadang terkandung hikmah yang tiada tara nikmatnya.
Bait keempat memiliki arti ketika syahdunya hawa perayaan pernikahan maka semakin banyak lah doa yang mengalir deras dari orang-orang yang hadir di pernikahan. Setiap doa yang mengalir akan menjadi layar-layar yang akan membantu dalam mengarungi laut yang penuh badai. Doa dari para hadirin sangat perlu karena doa yang berasal dari suatu perayaan laut nan sakral ini juga pasti tentunya akan mujarab. Karena doa orang banyak turut mempengaruhi bagaimana lautan itu kelak akan dilewati.  

3.     Lapis Dunia Pengarang (Lapis ketiga)
Disebut dunia pengarang karena cerita itu hanya bersifat rekaan. Unsur-unsur lapis dunia pengarang berupa: objek-objek yang dikemukakan.
Pelaku atau tokoh
Latar waktu
Latar tempat
Dunia pengarang
Berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan.
Dalam Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian dunia yang dikemukakan itu merupakan peristiwa yang dialami semua orang dalam memulai mahligai rumah tangga dan hal demikian pula lah yang dialami oleh Setia Naka Andrian, Perayaan Laut merupakan  kado pernikahan pengarang dan dialami sendiri oleh pengarang .
Unsur-unsur lapis dunia pengarang berupa: objek-objek yang dikemukakan:  laut, pantai, kapal, perahu, kampung penangkap ikan.

Pelaku atau tokoh:  kita (sepasang kekasih)
Latar waktu: malam hari (wirid)
Latar tempat: laut

4.     Lapis Dunia yang Implisit (Lapis keempat)
Berupa sugesti-sugesti atau kiasan-kiasan. dunia yang dipandang dari sudut pandang tertentu yang tidak usah dinyatakan (implisit). Tidak usah dikatakan malam, tapi dengan adanya bulan memancar itu berarti malam hari. Laut terang berarti juga tidak hujan, tidak berkabut (hakikat puis berupa pemadatan).
Yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu dinyatakan, tetapi terkandung dalamnya. Sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat”.
Puisi merupakan  ekspresi tidak langsung. Sajak tersebut merupakan kiasan manusia pada umumnya.
Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian ini menceritakan awal sebuah komitmen yang tak main-main yakni pernikahan, takdir lah yang mempertemukan sepasang kekasih, pernikahan merupakan babak baru dalam kehidupan yang baru pula, tak luput dari yang namanya persoalan (badai). Hanya doa dari rekan-rekan dalam pernikahan itu lah yang akan menguatkan sekaligus penghalang keretakan rumah tangga (bersama dengan kumpulan orang-orang yang merayakan laut, di atas doa dan isyarat yang sangat dekat)

5.     Lapis Metafiris (lapis kelima)
Menyebabkan pembaca berkontemplasi. Berupa sifat-sifat metafisis yang sublim, tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci. Dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan kepada pembaca.
Lapis Metafiris puisi Perayaan Laut adalah pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang baru, kehidupan pernikahan pasti ada yang namanya sandungan kerikil, entah itu masalah kecil atau besar. Bagaimana pun pernikahan harus lah selalu diiringi dengan doa karena doa itu lah penentu keharmonisan rumah tangga.   



Makalah Kajian Puisi Asmarandana dan Perayaan Puisi


Makalah
Kajian Puisi
Makalah ini disusun untuk mata kuliah: Kajian Puisi
Dosen Pengampu: Setia Naka Andrian, S.Pd., M.Pd.
logo universitas pgri semarang

Disusun Oleh:
Isti Rizkia Putri  (14410140/4D)
Lisa Andriyani   (14410168/4D)                                           


Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
Universitas PGRI Semarang
2016

 
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala anugerah-Nya karena dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah dengan lancar.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Puisi. Dengan ini disampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam tersusunnya makalah, kami menyampaikan  rasa terimakasih kepada  :
1.   Kedua orang tua yang telah memberikan doa dan semangat serta fasilitas yang mendukung.
2.     Setia Naka Andrian, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Kajian Puisi yang telah mendidik, membimbing kami.
3.     Teman-teman kelas 4D yang telah memberikan semangat.

Kami menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan kemampuan dalam menyusun makalah, sehingga jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun, sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


Semarang, 14 Mei 2016

Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A.    Latar Belakang.............................................................................. 1
B.    Rumusan Masalah......................................................................... 1
C.    Tujuan............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 2
A.    Unsur Bunyi..................................................................................... 2
B.    Unsur Bahasa Kiasan...................................................................... 7
C.    Unsur Tipografi............................................................................... 8
D.    Unsur Tema Puisi............................................................................ 9
E.    Lapis Puisi....................................................................................... 10
F.     Teori Abrams.................................................................................. 13

BAB III PENUTUP..................................................................................... 16
A. Simpulan.......................................................................................... 16
B. Saran................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 18





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Secara konvensional, sastra terdiri atas tiga genre, yakni puisi, prosa, dan drama. Puisi merupakan salah satu genre yang paling tua. Jika ditelusuri, sudah banyak definisi puisi. Dalam pandangan tradisional, puisi (poetry) merupakan ragam sastra yang terikat oleh unsur-unsurnya., seperti irama, rima, matra, baris, dan bait (Yusuf, 1995:225).  Menurut Carlyle puisi merupakan hasil pemikiran yang bersifat musikal.

B.    Rumusan Masalah
Bagaimana penjelasan mengenai unsur bunyi?
Bagaimana penjelasan mengenai unsur bahasa kiasan?
Bagaimana penjelasan mengenai unsur tipografi?
Bagaimana penjelasan mengenai unsur tema puisi?
Bagaimana penjelasan mengenai lapis puisi?
Bagaimana penjelasan mengenai teori Abrams?

C.    Tujuan
Mengetahui unsur bunyi.
Mengetahui unsur bahasa kiasan.
Mengetahui unsur tipografi.
Mengetahui unsur tema puisi.
Mengetahui lapis puisi.
Mengetahui teori Abrams.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Unsur Bunyi
Bunyi merupakan penanda yang dapat diamati melalui pendengaran dan atau penglihatan. Dalam puisi, bunyi memiliki peran antara lain adalah agar puisi itu merdu ketika dibaca dan didengarkan, sebab pada hakikatnya puisi adalah merupakan salah satu karya seni yang diciptakan untuk didengarkan (Sayuti, 2002:102).
Mengingat pentingnya unsur bunyi dalam puisi, bahkan seorang penyair melakukan pemilihan dan penempatan kata sering kali didasarkan pada nilai bunyi. Beberapa pertimbangan tersebut antara lain: 1) bagaimanakah kekuatan bunyi suatu kata yang dipilih itu diperkirakan mampu memberikan atau membangkitkan tanggapan pada pikiran dan perasaan pembaca atau pendengarnya; 2) bagaimanakah bunyi itu sanggup membantu memperjelas ekspresi; 3) ikut membangun suasana puisi; 4) mungkin juga mampu membangkitkan asosiasi-asosiasi tertentu (Sayuti, 2002:103).
Unsur bunyi puisi umumnya dapat diklasifikasikan, yaitu sajak sempurna, sajak paruh, aliterasi, dan asonansi.
Dari posisi kata yang mendukungnya dikenal dengan adanya sajak awal, sajak tengah (sajak dalam), sajak akhir. Berdasarkan hubungan antarbaris dalam tiap bait dikenal adanya sajak merata (terus), sajak berselang, sajak berangkai, dan sajak berpeluk.
    





Contoh puisi pertama
PERAYAAN LAUT
Karya Setia Naka Andrian
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita di laut
Agar ikan-ikan semakin gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya pelan-pelan
dengan penuh ciuman,

Hari-hari telah sepakat
menari sambil menelusuri pantai
yang mendoakan kita kepada kematian,
Agar keselamatan mata kita
akan semakin berpelukan
dalam wirid yang semakin memanjang,

Hari-hari semakin berenang
di atas kapal yang penuh dengan genangan pasir
dalam perayaan laut yang tumbuh dengan seribu badai
dan tepuk tangan,
Agar kelak rumah kita semakin abadi
menjadi perahu
yang tumbuh dari kampung-kampung penangkap ikan,

dan kita akan semakin khusyuk berpesta,
 bersama kumpulan orang-orang yang merayakan laut
di atas doa dan isyarat yang sangat dekat
dengan kapal penjual ikan,

Juli 2013











Contoh Puisi kedua
Asmarandana
Karya Goenawan Mohamad
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari
daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta
langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang
berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat
peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang
semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila
esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke
utara, ia tak akan lagi mencatat yang telah lewat dan yang
akan tiba
karena ia tak berani lagi.
Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu.
Bulanpun lamban dalam angin, abai dalam waktu
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
Kaulupakan wajahmu.
(Goenawan Mohamad, “Asmarandana”, Parikesit, 1971) 

Sajak sempurna adalah ulangan bunyi yang timbul sebagai akibat ulangan kata tertentu, seperti tampak pada puisi Asmarandana. Asonansi adalah ulangan bunyi vokal yang terdapat pada baris baris puisi, yang menimbulkan irama tertentu, sementara aliterasi dalam ulangan konsonan. Asonansi, misalnya juga terdapat pada puisi Asmarandana.
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari
daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta
langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti
yang jauh …
(Goenawan Mohamad, “Asmarandana”, Parikesit, 1971) 
Pada kutipan tersebut terdapat asonansi berupa ulangan bunyi i-a-e-a-u-a-a-i, berulang-ulang sepanjang baris-baris puisi tersebut yang menimbulkan irama, sehingga puisi enak dibaca.
Dalam kutipan tersebut terdapat aliterasi, terutama pada konsonan d, k, p, l, n, ng, r, s yang ketika dikombinasikan dengan bunyi cenderung menimbulkan irama suasana muram. Oleh karena itu, sesuai dengan suasana yang ditimbulkan oleh ulangan bunyi dikenal dengan cacophony (bunyi yang menimbulkan suasana muram dan tidak menyenangkan).

Asonansi pada puisi Perayaan Laut
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita di laut
...
Hari-hari telah sepakat
menari sambil menelusuri pantai

 (Setia Naka Andrian, “Perayaan Laut”, Perayaan Laut, 2013)
Pada kutipan tersebut terdapat asonansi berupa ulangan bunyi a-i, a-i, e-a, e-a pada baris pertama, berulang-ulang sepanjang baris-baris puisi tersebut yang menimbulkan irama sehingga puisi enak dibaca.
Dalam kutipan tersebut juga terdapat aliterasi, terutama pada ulangan konsonan h, r, t, l, s, p, k yang ketika dikombinasikan dengan bunyi asonansi cenderung menimbulkan irama dan suasana bahagia. Oleh karena itu, sesuai dengan suasana yang ditimbulkan oleh ulangan bunyi dikenal dengan ephony (bunyi yang menimbulkan suasana menyenangkan).
B.    Unsur Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan (figurative language) merupakan penyimpangan dari pemakaian bahasa yang biasa yang makna katanya atau rangkaian katanya digunakan dengan tujuan untuk mencapai efek tertentu (Abrams, 1981). Bahasa kiasan memiliki beberapa jenis yaitu personifikasi, metafora, perumpaan (simile), metonomia, sinekdoki, dan alegori (Pradopo, 1978).
Puisi Asmarandana  memiliki bahasa kiasan jenis metonimia. Metonomia (pengganti nama) diartikan sebagai pengertian yang satu dipergunakan sebagai pengertian yang lain yang berdekatan. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan pada baris sebagai berikut.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat
   Perpisahan itu merupakan metonomia dari kematian.
Puisi Perayaan Laut memiliki bahasa kiasan jenis metafora. Metafora adalah kiasan yang menyatakan sesuatu sebagai hal yang sebanding dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama (Altenberg, dan Lewis, 1969). Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan pada baris sebagai berikut.
Hari-hari semakin berenang
di atas kapal yang penuh dengan genangan pasir
dalam perayaan laut yang tumbuh dengan seribu badai
Perayaan laut merupakan kiasan untuk menyebutkan makna pernikahan.
Badai merupakan kiasan untuk permasalahan di dalam kehidupan berumah tangga.

C.    Unsur Tipografi
Menurut Aminuddin (1987:146) tipografi dalam puisi berfungsi sebagai penampilan yang artistik serta memberikan nuansa makna dan suasana tertentu.
PERAYAAN LAUT
Karya Setia Naka Andrian
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita di laut
Agar ikan-ikan semakin gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya pelan-pelan
dengan penuh ciuman,

Puisi Perayaan Laut merupakan puisi yang berjenis dari tipografi konvensional.
Asmarandana
Karya Goenawan Mohamad
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari
daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta
langkah
Puisi Asmarandana merupakan puisi yang berjenis dari tipografi bentuk lukisan atau ruang tertentu.

D.    Unsur Tema Puisi
Berdasarkan penafsiran pada puisi Perayaan Laut dapat dirumuskan tema puisi, yakni tentang “perayaan pernikahan yang merupakan keputusan sepasang kekasih dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan soal, permasalahan, ujian kehidupan”.
Berdasarkan penafsiran pada puisi Asmarandana dapat dirumuskan tema puisi, yakni tentang “kisah percintaan yang pada akhirnya dipisahkan oleh kematian”.


E.    Lapis Puisi
Menurut Ingarden karya sastra itu terdiri atas lapis norma yaitu :
(1) lapis bunyi,
(2) lapis arti,
(3) lapis dunia pengarang,
(4) lapis dunia dilihat dari sudut pandang tertentu yang implicit, dan
(5) lapis metafiris.

Puisi Perayaan Laut dikaji berdasarkan lapis norma, yakni sebagai berikut.
1.     Lapis Bunyi
Lapis bunyi berupa deretan bunyi-bunyi fonem. Bunyi fonem itu berderet dan bergabung menjadi satuan lebih besar sesuai dengan konvensi bahasa (bahasa Indonesia).
Dalam sajak pembicaraan lapis bunyi harus ditujukan pada bunyi yang bersifat istimewa atau khusus yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan  efek puitis atau nilai seni. Lapis bunyi itu menjadi dasar timbulnya lapis kedua.
Misalnya pada bait pertama.
Hari-hari telah sepakat
menjatuhkan bibir kita di laut
Agar ikan-ikan semakin gemar
menidurkan petaka kita
dan membunuhnya pelan-pelan
dengan penuh ciuman,
Bait pertama baris kelima dan enam ada asonansi e dan a (dan membunuhnya pelan-pelan dengan penuh ciuman,)
Dalam bait pertama terdapat asonasi e dan a karena pada umumnya dalam sajak itu bunyi-bunyi yang dominan adalah vocal suara e dan a.
2.     Lapis Arti
Berupa rangkain fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan arti. Rangkaian satuan-satuan arti menimbulkan lapis ketiga.
Dalam  menganalisis sajak berdasarkan lapis arti itu menerangkan arti tiap kata, kelompok kata, dan kalimat berdasarkan arti linguistiknya supaya menjadi jelas. Lebih-lebih kata yang tidak biasa.
Bait pertama memiliki arti bahwa takdir lah yang telah sepakat mempertemukan dua insan, kedua insan yang jatuh cinta memutuskan untuk menikah.
Bait kedua memiliki arti takdir pula lah yang nantinya akan memisahkan dua insan tersebut yakni setelah mereka menikah. Menikah seperti lautan  kehidupan yang nantinya pasti ada badai, ombak, masalah yang menghampiri. Laut itu akan berujung dan berlabuh di pantai, pantai merupakan pelabuhan terakhir yang berarti kematian, hanya doa dan shalat malam yang menjadi perekat kedua insan tersebut.
Bait ketiga memiliki arti takdir telah mulai menguji dengan cobaan dimulai dengan kerikil-kerikil masalah kecil. Dalam suatu hubungan mahligai rumah tangga, pernikahan tak akan luput dari suatu persoalan, masalah, cobaan, dan celaan juga dari orang lain. Namun apabila sepasang kekasih itu saling percaya dan setia maka rintangan apa pun akan sirna bahkan terkadang terkandung hikmah yang tiada tara nikmatnya.
Bait keempat memiliki arti ketika syahdunya hawa perayaan pernikahan maka semakin banyak lah doa yang mengalir deras dari orang-orang yang hadir di pernikahan. Setiap doa yang mengalir akan menjadi layar-layar yang akan membantu dalam mengarungi laut yang penuh badai. Doa dari para hadirin sangat perlu karena doa yang berasal dari suatu perayaan laut nan sakral ini juga pasti tentunya akan mujarab. Karena doa orang banyak turut mempengaruhi bagaimana lautan itu kelak akan dilewati.  
3.     Lapis Dunia Pengarang (Lapis ketiga)
Disebut dunia pengarang karena cerita itu hanya bersifat rekaan. Unsur-unsur lapis dunia pengarang berupa: objek-objek yang dikemukakan.
Berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan.
Dalam Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian dunia yang dikemukakan itu merupakan peristiwa yang dialami semua orang dalam memulai mahligai rumah tangga dan hal demikian pula lah yang dialami oleh Setia Naka Andrian, Perayaan Laut merupakan  kado pernikahan pengarang dan dialami sendiri oleh pengarang .
Unsur-unsur lapis dunia pengarang berupa: objek-objek yang dikemukakan:  laut, pantai, kapal, perahu, kampung penangkap ikan.

Pelaku atau tokoh:  kita (sepasang kekasih)
Latar waktu: malam hari (wirid)
Latar tempat: laut

4.     Lapis Dunia yang Implisit (Lapis keempat)
Berupa sugesti-sugesti atau kiasan-kiasan. dunia yang dipandang dari sudut pandang tertentu yang tidak usah dinyatakan (implisit). Tidak usah dikatakan malam, tapi dengan adanya bulan memancar itu berarti malam hari. Laut terang berarti juga tidak hujan, tidak berkabut (hakikat puis berupa pemadatan).
Yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu dinyatakan, tetapi terkandung dalamnya. Sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat”.
Puisi merupakan  ekspresi tidak langsung. Sajak tersebut merupakan kiasan manusia pada umumnya.
Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian ini menceritakan awal sebuah komitmen yang tak main-main yakni pernikahan, takdir lah yang mempertemukan sepasang kekasih, pernikahan merupakan babak baru dalam kehidupan yang baru pula, tak luput dari yang namanya persoalan (badai). Hanya doa dari rekan-rekan dalam pernikahan itu lah yang akan menguatkan sekaligus penghalang keretakan rumah tangga (bersama dengan kumpulan orang-orang yang merayakan laut, di atas doa dan isyarat yang sangat dekat)
5.     Lapis Metafiris (lapis kelima)
Menyebabkan pembaca berkontemplasi. Berupa sifat-sifat metafisis yang sublim, tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci. Dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan kepada pembaca.
Lapis Metafiris puisi Perayaan Laut adalah pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang baru, kehidupan pernikahan pasti ada yang namanya sandungan kerikil, entah itu masalah kecil atau besar. Bagaimana pun pernikahan harus lah selalu diiringi dengan doa karena doa itu lah penentu keharmonisan rumah tangga.   

F.     Teori Abrams
Abrams berpendapat bahwa adanya hubungan antara pengarang, semestaan, pembaca, dan karya sastra. Abrams membuat diagram yang terdiri atas empat pendekatan. Pendekatan tersebut meliputi pendekatan objektif, ekspresif, mimetik, dan pragmatik. Dengan demikian, model Abrams sangat bermanfaat untuk memahami secara lebih baik keanekaragaman teori sastra (Teeuw,1984).

Menurut Abrams pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti tujuan pendidikan, moral agama atau tujuan yang lainnya. Pendekatan pragmatik mengkaji karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan tujuan-tujuan tertentu bagi pembacanya. Semakin banyak nilai-nilai, ajaran-ajaran yang diberikan kepada pembaca maka semakin baik karya sastra tersebut.

Puisi Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian dikaji dengan pendekatan pragmatik. Puisi Perayaan Laut menjelaskan bahwa pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang baru, kehidupan pernikahan pasti ada yang namanya sandungan kerikil, entah itu masalah kecil atau besar. Bagaimana pun pernikahan harus lah selalu diiringi dengan doa karena doa itu lah penentu keharmonisan rumah tangga. Ada pun nilai-nilai yang disampaikan penulis puisi Perayaan Laut kepada pembaca yaitu ada nilai religius atau agama. Nilai religius atau agama dapat terlihat pada kutipan puisi berikut ini.  

 dan kita akan semakin khusyuk berpesta,
 bersama kumpulan orang-orang yang merayakan laut
di atas doa dan isyarat yang sangat dekat
dengan kapal penjual ikan,

     Puisi Asmarandana karya Goenawan Mohamad dikaji dengan pendekatan pragmatik. Puisi Asmarandana menjelaskan bahwa Anjasmara telah berpisah dengan kekasihnya. Kekasihnya maju dalam medan peperangan dan perpisahan itu terjadi karena sang kekasih Anjasmara meninggal dalam peperangan. Ada pun nilai-nilai yang disampaikan penulis puisi Asmarandana kepada pembaca yaitu nilai moral. Nilai moral yang disampaikan penulis puisi yaitu apa bila kita ditinggal wafat kekasih kita dalam medan peperangan jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Semua pertemuan, perpisahan, percintaan sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Hidup harus terus berjalan bagaimana pun keadaan dan segala musibah yang dialami. Tuhan tidak akan menguji hambaNya diluar batas kemampuan hambaNya. Jadi segala ujian yang Tuhan berikan itu kita mampu untuk melewati karena Tuhan yakin kita pasti bisa menghadapi ujian itu. Nilai moral yang diajarkan yaitu sikap berlapang dada menerima takdir, menjadi pribadi yang tangguh, jangan berlarut-larut dalam kesedihan       


















BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
     Puisi Asmarandana  memiliki bahasa kiasan jenis metonimia. Puisi Perayaan Laut memiliki bahasa kiasan jenis metafora.
Puisi Perayaan Laut merupakan puisi yang berjenis dari tipografi konvensional. Puisi Asmarandana merupakan puisi yang berjenis dari tipografi bentuk lukisan atau ruang tertentu.
Puisi Perayaan Laut dapat dirumuskan tema puisi, yakni tentang “perayaan pernikahan yang merupakan keputusan sepasang kekasih dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan soal, permasalahan, ujian kehidupan”. Berdasarkan penafsiran pada puisi Asmarandana dapat dirumuskan tema puisi, yakni tentang “kisah percintaan yang pada akhirnya dipisahkan oleh kematian”.
Puisi Perayaan Laut karya Setia Naka Andrian dikaji dengan pendekatan pragmatik. Puisi Perayaan Laut menjelaskan bahwa pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang baru, kehidupan pernikahan pasti ada yang namanya sandungan kerikil, entah itu masalah kecil atau besar. Ada pun nilai-nilai yang disampaikan penulis puisi Perayaan Laut kepada pembaca yaitu ada nilai religius atau agama.
Puisi Asmarandana karya Goenawan Mohamad dikaji dengan pendekatan pragmatik. Puisi Asmarandana menjelaskan bahwa Anjasmara telah berpisah dengan kekasihnya. Kekasihnya maju dalam medan peperangan dan perpisahan itu terjadi karena sang kekasih Anjasmara meninggal dalam peperangan. Ada pun nilai-nilai yang disampaikan penulis puisi Asmarandana kepada pembaca yaitu nilai moral.



B.    Saran
            Apresiasi dan kajian puisi bukan sekadar untuk menggali informasi tentang pengarang dan amanat yang disampaikan. Akan tetapi, terkesan lebih menghidupkan dan melestarikan puisi itu sebagai karya yang tiada tara memiliki estetika dan tak ada ruginya untuk dipelajari.

















DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1987.Pengantar Apresiasi Sastra.Bandung:Sinar Baru.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.
Teeuw. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
Mayy, War. 2013. Pendekatan dalam Pengkajian Sastra M. H. Abrams. [Online]. Tersedia www.pendekatandalampengkajiansastraabrams.blogspot.com. Diakses 3 Mei 2016.
Wahid, Aziz. 2016. Ragam Pengkajian Sastra. [Online]. Tersedia: http://azizwahied.blogspot.co.id/2013/04/ragam-kajian-sastra.html. Diakses 3 Mei 2016.
Astuti, Nining Puji. 2012. Pengertian Kritik Sastra. [Online]. Tersedia: https://niningpujiastuti.wordpress.com/2012/12/28/pengertian-kritik-sastra/. Diakses 3 Mei 2016.
Satria, Muhammad.2012. Mengapresiasi Puisi. [Online]. Tersedia: www.mengapresiasipuisimuhammadsatria.com. Diakses 3 Mei 2016.